Semua kisah tentunya memiliki awalnya sendiri-sendiri dengan pelaku dan ragam cerita yang beragam dengan segala keunikannya. Demikian juga dengan metode Jessica, ada cerita yang mengawali yaitu dari kisah iseng yang terjadi antara pertengahan tahun 2007 saat saya masih berdomisili di Yogyakarta. Di masa itu saya tinggal di sebuah kontrakan kecil bersama dengan beberapa orang teman satu daerah saya sekaligus teman SMU dan juga beberapa teman SMP saya.
Dian (bukan nama sebenarnya) adalah salah seorang penghuni kontrakan yang juga teman akrab saya tentunya. Tidak seperti teman – teman lainnya, Dian memiliki kebiasaan yang secara umum dianggap kurang baik yaitu hampir setiap malam dihabiskan dengan mabuk-mabukan bersama teman-teman nongkrongnya.
Secara umum teman kontrakan lainnya tidak merasa terganggu karena Dian hanya mabuk-mabukan diluar area kontrakan saja dan tidak membawa dampak secara langsung pada rekan lain di kontrakan. Disinilah kami menyebutnya toleransi atau saat itu lebih tepatnya mendiamkan perilaku rekan karena belum ada kepentingan terhadap perubahan perilaku tersebut.
Suatu ketika orang tua Dian menelepon saya untuk menanyakan perilaku anaknya apakah sama dengan yang dilaporkan oleh Dian atau sebaliknya. Tampaknya orang tua Dian tidak begitu yakin dengan pengakuan Dian yang mengatakan kepada orang tuanya kalau di Yogyakarta dia rajin kuliah dan rajin beribadah. Sebagai teman ada terlintas keinginan dalam diri saya untuk berbohong kepada orang tua Dian dengan mengiyakan pernyataan Dian terhadap mereka namun isak tangis ibunya saat bertanya yang memohon dengan sangat kebenaran berita tersebut mencegah saya menjadi teman yang baik bagi Dian.
Hari itu saya menceritakan kejadian yang sesungguhnya dan tentu saja isak tangis sang orang tua semakin menjadi-jadi karena perilaku Dian sejak SMU belum ada perubahan ke arah positif namun justru mengarah kepada level yang jauh lebih negatif. Saya yang saat itu sudah mendalami tentang beberapa metode pengembangan diri mulai tergerak untuk mengulurkan tangan kepada Dian dan terutama untuk orang tuanya agar tidak lagi bersedih dengan tindakan anaknya. Yah meskipun saya bisa membantu toh selama ini Dian sedang “tidak butuh” bantuan dari saya atau rekan karena meyakini bahwa hidupnya normal saja.
Sebelum menutup pembicaraan telepon saya berkata pada orang tua Dian, “Beri saya kepercayaan dan waktu selama sepuluh hari, insyaallah saya akan berusaha membuat Dian kembali kepada kehidupan yang lebih positif dalam segala bidang”. Entah karena sekedar menghargai permintaan saya atau mereka memang tulus, saat itu saya diberi kepercayaan tersebut atau jika saya gagal maka Dian akan dipaksa pulang kampung tanpa akan ada lagi kesempatan melanjutkan kuliah dengan pembiayaan dari kedua orang tuanya.
Strategi “Saving Private Dian” dimulai. Untuk membuat perubahan yang diinginkan oleh orang tua Dian maka pada tahap awal saya akan melakukan pengamatan terhadap apapun yang sangat dipercayai oleh Dian sebagai hal yang sangat sakral dan menyentuh nilai pribadinya dalam bertindak. Jika nilai ini bisa saya tangkap salah satunya saja, kemungkinan besar perubahan drastis akan terjadi dalam diri Dian sesuai rencana.
Setelah saya selidiki seharian penuh melalui obrolan ringan dan pengakuan Dian yang polos tanpa kecurigaan, saya mendapati beberapa poin yang kemungkinan besar bisa saya manfaatkan untuk memengaruhi tingkah perilaku Dian. Salah satunya adalah fakta bahwa Dian sangat takut dan sangat percaya dengan hal-hal “metafisika”.
Dua hari berikutnya di sebuah malam yang hening saya dan Dian sedang bercanda ringan dan ngobrol di kamar Dian. Rekan lain sebagian kelayapan dan beberapa lainnya berdiam di kamar masing- masing. Ada pula dua rekan rajin berteriak-teriak sambil bermain game Play Station. Saya mulai jalankan strategi saya untuk memengaruhi Dian malam itu.
Saya mulai membuka pembicaraan tentang kisah dimana ada beberapa orang yang mampu menyaksikan keberadaan “makhluk lain” dengan mata telanjang. Dan tepat seperti dugaan saya, Dian sangat tertarik menyimak cerita-cerita bertema mistis yang saya suguhkan malam itu. Salah satu yang saya ceritakan kepadanya adalah bahwa saya juga memiliki kemampuan melihat makhluk halus, dan Dian percaya juga he he he…
Malam itu terjadilah serangkaian percakapan sebagai berikut.
Dian : “Jadi kalau di kontrakan ini ada ndak makhluk halusnya?”
Anam : “Jelas ada, sama seperti semua tempat lain di dunia ini.”
Dian : “Oh ya, bagimana nih wujud mereka? Ada yang suka ganggu ndak?”
Anam : “Sebentar ya…” (memandang penuh perhatian ke arah telinga kiri luar Dian)
Dian : “Gimana? Ada makhluk halus yang terlihat?”
Anam : “Dian aku melihat sesuatu di belakangmu” (dengan nada serius tanpa mengalihkan fokus pandangan mata)
Dian : “Apa itu yang di belakangku?” (dengan raut muka ketakutan dan mulai mendekatkan duduknya ke arah saya)
Anam : “Aku tidak tahu tapi wujudnya sangat menyeramkan.
Sepertinya dia mengikutimu sudah sejak lama.”
Dian : “Jangan menakut-nakuti ah.” (dengan raut muka semakin ketakutan)
Anam : “Dia sudah lama mengikutimu, bahkan saat ini auramu kelihatannya sudah bercampur dengan aura makhluk ini. Apa kamu sering melakukan hal-hal buruk yang bertentangan dengan hati nuranimu selama ini? Jika iya, dialah yang bertanggung jawab atas semua hal buruk yang kamu lakukan.”
Dian : “Iya betul, betul… Aku sering merasa dikendalikan oleh kekuatan lain yang mengajakku berbuat banyak hal yang aku tidak suka.” (dengan wajah serius)
Anam : “Oke sudah jelas sekarang makhluk inilah dalangnya.”
Dian : “Bagaimana sih wujud makhluk yang selama ini merusak suasana hatiku? Dia jahat ndak ya?”
Anam : “Seluruh permukaan kulitnya berwarna hijau tua. Matanya merah melotot ke arahku sepertinya dia benci sekali denganku. Dia tidak berpakaian hanya mengenakan celana pendek kolor berwarna kuning. Rambutnya acak-acakan dan gondrong.”
Dian : “Ih serem ah…” (duduk semakin mendekat ke arah saya)
Anam : “Tenanglah setidaknya sekarang kamu tahu bahwa kamu tidak sepatutnya merasa tidak nyaman atas hal-hal yang terjadi diluar kehendakmu.”
Dian : “Bisakah kamu minta dia pergi dari hidupku? Aku sudah muak menjalani kehidupan yang aku tidak pernah inginkan? Kumohon… “
Anam : “Aku coba berkomunikasi dengannya tapi tampaknya dia tidak mau pergi dari dirimu.”
Dian : “Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?”
Anam : “Bukankah selama ini dia numpang dalam hidupmu?
Seharusnya kamu bisa gantian memanfaatkan keberadaannya. Nyatanya dia tidak mau pergi pasti dia butuh sesuatu dari dirimu selama ini.”
Dian : “Memangnya bisa seperti itu?”
Anam : “Bisa banget, selama ini kan kalian sudah bersama-sama hanya mungkin kamunya yang tidak pernah komunikasi dengan dia. Coba deh kamu pejamkan mata lalu niatkan untuk mengijinkan sosoknya muncul dipandanganmu.”
Dian : (memejamkan matanya dan terdiam agak lama)
Anam : “Beri dia nama, sekedar untuk memudahkan pemanggilannya.”
Dian: “Iya samar-samar aku sudah mulai bisa melihat wujud dan gerakannya. Aku namakan dia Buto Ijo.”
Anam : “Kalau kamu mau mencoba hal lain, minta dia menyentuh badan kamu agar kamu tahu dia nyata.”
Dian : “Iya dia menempelkan telapak tangan kanannya di punggungku. Aku bisa rasakan tangannya halus dan dingin sekali rasanya.”
Anam : “Kenapa kamu tidak membuka mata dan membiarkan wujud Buto Ijo lebih jelas terlihat dengan mata terbuka?”
Dian : (perlahan membuka mata dan menoleh ke arah belakang tempat yang tadinya saya katakan merupakan posisi Buto Ijo)
Anam : “Apa yang kamu lihat Dian?”
Dian : “Ya Allah dia ternyata benar ada…. “ (dengan nada suara agak tercekat)
Anam : “Apakah kamu merasa takut saat ini?”
Dian : “Tadinya iya, tapi kok sekarang biasa aja ya? Cuma agak aneh aja aku melihat sosok seperti itu di dalam kamarku dan aku tahu itu bukan manusia.”
Anam : “Dian, saatnya kamu tunjukkan pada si Buto Ijo siapa yang jadi Bos dan siapa yang jadi bawahan. Beri dia perintah agar kamu terlepas dari kendali sesatnya.”
Dian : “Bagaimana caranya aku memberi perintah kepada Buto Ijo ini? Ada saran?”
Anam : “Cobalah komunikasi lewat batin saja sebut namanya dan minta dia melakukan satu hal dengan spesifik. Satu hal saja biar ketahuan berhasil tidaknya”
Dian : (terpejam sejenak sambil tersenyum kecil)
Karena waktu sudah hampir dini hari saya pamitan untuk tidur di kamar saya. Dan hingga saat saya pamitan Dian belum bercerita tentang “perintah” apa yang di berikan kepada Buto Ijo tadi. Tak apalah toh bukan urusan saya juga, dan strategi saya untuk membuat Dian berubah perilaku buruknya sudah bisa dibilang berhasil ditahap pertama. Saya tidak pernah benar-benar melihat Buto Ijo milik Dian tadi, bahasa sederhananya adalah “saya berbohong”.
Rencana saya adalah dengan menyalahkan sosok Buto Ijo yang sebenarnya tidak pernah ada untuk memberi tahu Dian secara tidak langsung bahwa jika dia meneruskan semua kegiatannya yang kurang positif sama halnya dia membiarkan dirinya dikuasai makhluk jahat berupa Buto Ijo tersebut. Mana ada orang yang mau dikatakan dikuasai makhluk jahat, dan dari pengakuannya malam itu ternyata Dian juga sebenarnya juga tidak nyaman dengan perilaku pribadinya selama ini mungkin dia hanya perlu seseorang untuk mengarahkannya.
Saya pribadi tidak pernah menyalahkan Dian atas perilakunya, tetapi malam itu saya mengkambinghitamkan Buto Ijo sehingga tidak akan dianggap sebagai kalimat yang menyerang perilaku Dian secara langsung.
Karena sangat mengantuk dalam sekejap kesadaran saya sudah berada di pulau kapuk indah mencetak pulau-pulau baru berkanvaskan bantal. Saya tertidur pulas. Belum genap satu jam saya terlelap tiba-tiba terdengar teriakan histeris dari kamar sebelah. Langsung saja mata saya yang berat menjadi terang seketika dan bergegas lari menuju arah suara.
Di kamar sebelah ada Doni ( bukan nama sebenarnya ) yang duduk dipinggiran kasur busa dengan muka yang sangat ketakutan atau lebih tepatnya sangat panik. Padahal tadi sebelum saya tidur Doni masih asyik tertawa- tawa sambil bermain Play Station. Rekan lainpun segera berdatangan karena kaget dengan teriakan histeris Doni barusan.
Rekan : “Ada apa Don kok mukamu sampai pucet kayak gitu?”
Don : “Bentar aku ambil napas dulu…” (sambil berusaha mengatur napasnya yang tersengal sengal)
Rekan : “Ntar ceritain pelan-pelan aja siapa tahu kita bisa bantu.”
Doni : “Ndak ada masalah kok. Tadi barusan aku mimpi serem banget sampe kayak nyataaaa banget aku alami.”
Rekan : “Mimpi kayak gimana tuh? Ceritain dong…”
Doni : “Tadi aku mimpi reuni dengan temen-temen SMU dulu. Aku seneng banget. Lalu mereka semua mengitariku dan memeluk aku rame-rame. Tapi kemudian… “ (mukanya kembali pucat)
Rekan : “Kenapa? Lanjutin dong ceritanya…”
Doni : “Pas aku dipeluk rame-rame, tiba-tiba mereka semua berubah jadi makhluk yang serem banget. Semua yang memeluk aku kulitnya berubah menjadi hijau tua, mata mereka melotot berwarna merah dan mereka ndak pake baju. Cuma pakai semacam kolor yang warna warni. Wis pokoke serem banget.”
Dan pembicaraan tentang mimpi Doni semakin ramai, sementara saya melihat Dian yang juga berdiri disitu tersenyum simpul ke arah saya yang cukup untuk mewakili ratusan kata yang membuat saya berkesimpulan negatif. Ada yang tidak beres dari kejadian ini. Esok harinya saya temui Dian selepas sarapan gudeg di pagi hari. Saya mulai berbincang ringan dengan Dian.
Anam : “Dian kalo boleh tau tadi malem apa sih yang kamu perintahkan ke Buto Ijo?”
Dian : “Loh kan sudah jelas, masa masih nanya?”
Anam : “Jelas bagaimana maksudmu?”
Dian : “Yang terjadi pada Doni adalah akibat perintahku ke Buto Ijo he he.. “
Anam : “Astaghfirulloh… “ (melongo tidak tahu harus komentar apa lagi)
Dari pembicaraan pagi itu tiba-tiba keinginan saya meneruskan strategi “Saving Private Dian” menjadi lenyap. Saya malah sibuk memikirkan mengapa kejadian Doni bisa terjadi jika benar Dian yang melakukannya. Berbagai pertanyaan dan tebakan mulai berseliweran memenuhi benak saya mulai hari itu. Setidaknya ada beberapa hal yang saya pertanyakan karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya waktu itu.
1. Mungkinkah Buto Ijo berubah menjadi realita di dalam diri Dian?
2. Makhluk apa sebenarnya yang mengganggu Doni?
3. Adakah campur tangan makhluk gaib dalam peristiwa tadi malam?
4. Bisakah makhluk imajiner seperti Buto Ijo benar-benar masuk dalam mimpi orang lain?
5. Apakah fenomena tersebut bisa diulang ataukah hanya kebetulan semata?
Tentunya dalam buku Jessica Method yang Anda pegang saat ini kita akan mengulas fenomena awal ini dengan pola pikir yang lebih terbuka dan mudah dipahami. Berbeda dengan kebingungan saya di masa lampau saat pertama kali mengamati dan menerka-nerka tentang apa yang terjadi pada Dian dan Doni tanpa penjelasan yang memuaskan.
Silakan teruskan membaca dan dapatkan berbagai jawaban yang memuasakan keingintahuan Anda dan tentunya menggembirakan bagai Anda mulai sekarang.
Dian dan Buto Ijo
by Kirito Rev, 8:57 AM, No comment
Dian dan Buto Ijo - written by Kirito Rev , published at 8:57 AM, categorized as Awal Mula Jessica Method
. And have 0
comments