Asal Nama Jessica

by Kirito Rev, 9:16 AM, No comment
Sudah hampir dua tahun berlalu sejak peristiwa Dian dan Doni namun rasa penasaran saya masih sering muncul atas kejadian tersebut. Suatu ketika di awal tahun 2009 saya bersama seorang saudara saya sedang berada di Semarang untuk membawakan sebuah training bertema parenting.

Tidak ada yang istimewa dari kegiatan hari itu selain para peserta parenting yang terlalu bersemangat dan bercanda riang selama belajar bersama dalam pelaksanaan training tersebut dari pagi hingga sore hari.

Sore harinya saya dan Herman (bukan nama sebenarnya) saudara saya terlibat pembicaraan menarik di lobi hotel tempat kami menginap sambil menikmati kopi panas dan camilan beraneka rupa tentunya.

Entah kenapa sore itu kami membahas lagi tentang Dian dan  Doni  yang  notabene  dulu  satu  kontrakan  dengan  kami  saat masih di Yogyakarta. Kepada Herman sayapun ceritakan detail yang saya ketahui tentang Dian dan Doni sebatas apa yang saya bicarakan dan saya amati saat itu.

Herman menyimak cerita dan ulasan yang saya sampaikan dengan tenang dan penuh dengan pandangan penasaran. Hingga  ditengah  pembicaraan  seru  tersebut  Herman mulai bertanya kepada saya tentang hal yang belum pernah saya pikirkan sebelumnya.

Herman  : “Nam, bisa ndak hipnosis membuat efek Buto Ijo dengan format yang lebih nyata dan menarik?”
Anam    : “Maaf, bisa diperjelas pertanyaanmu barusan?”

Herman  : “Maksudku, misale aku dibuatkan semacam Buto Ijo dengan bentuk yang lebih indah bisa ndak? Pakai hipnosis juga boleh asal hasilnya bagus.”
Anam    : “Bisa dong…. Mau coba sekarang? “ (sambil mikir gara- gara asal ceplos)
Herman  : “Boleh… Serius loh ya jangan bercanda kayak biasanya…”

Anam    : (senyum sambil merem dan bingung mikir strategi)

Kami bergegas kembali menuju kamar hotel dengan tujuan segera memulai prosesi instalasi Buto Ijo versi hipnosis untuk pertama kalinya. Herman  berperan  sebagai  kelinci  percobaan  gratis tentunya.

Prosesi standar saya mulai menggunakan induksi Dave Elman untuk mengarahkan Herman menuju Somnambulisme secara perlahan.  Dan  tentu  saja  saya  sambil  puyeng  memikirkan  cara.

membuat Buto Ijo versi baru yang saya janjikan pada Herman. Loh ide  belum  ada  yang  mampir  di  kepala  saya  kok  Herman  sudah masuk kondisi trance Somnambulisme, saya masih butuh tambahan waktu buat mikir.

Akhirnya Ultra Height menjadi pilihan untuk perpanjangan waktu. Saya arahkan Herman menuju level Ultra Height yang konon bisa melipatgandakan level kesadaran seseorang di atas kondisi normal.

Alhamdulillah saat Herman baru saja mencapai trance level Ultra

Height sudah ada ide yang nongkrong di kepala saya. Saya putuskan untuk menduplikasi struktur pembuatan Buto Ijo pertama bersama Dian dulu dengan beberapa modifikasi tentunya. Eksperimen pembuatan Buto Ijo versi baru memakan waktu selama satu jam penuh dengan partisipasi aktif dari Herman yang dari awal memang sebagai pencetus ide eksperimen ini.

Alhamdulillah eksperimen pembuatan Buto Ijo versi baru membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Saya lakukan wawancara singkat dengan Buto Ijo versi baru alias Jessica yang dibuat oleh Herman barusan yang saat itu masih berada dalam kondisi trance hipnosis. Berikut ini kurang lebih hasil wawancara saya dengan Jessica.

Anam    : ”Herman, tolong sampaikan ke Jessica bahwa saya ingin berkomunikasi dengannya. Tugasmu adalah sebagai perantara yang menyampaikan ulang jawaban Jessica kepada saya jika dia bersedia menjawab. Tolong tanyakan kesediaannya ya.”
Herman  : “Dia bilang dia bersedia, silakan mulai bertanya”

Anam    :  “Jessica,  apakah  kamu  punya  nama  lain  selain  yang diberikan Herman padamu?”
Jessica   : “Tidak.”

Anam    : “Jessica, berapa usia kamu kalau boleh tahu?”

Jessica   : “Dua puluh empat tahun”

Anam    : “Bukankah Herman baru berusia dua puluh tiga tahun? Jadi kamu lebih dahulu ada begitukah?”
Jessica :  “Tidak.  Kami  selalu  bersama  usiaku  dihitung  dari  awal penciptaanku  dan  Herman  usianya  dihitung  sejak dilahirkan ibunya.”
Anam    : “Jadi kamu itu sebenarnya apanya Herman?”

Jessica : “Saya bagian dari diri Herman.”

Anam    : “Kalau begitu selama ini kamu berada di mana?”

Jessica : “Saya ada di dalam diri Herman, jauh di dalam.”

Anam    : “Oke. Kalau misalnya Herman tidak memanggilmu hari ini apakah kamu juga akan tetap muncul?”
Jessica : “Tidak, saya akan diam di tempat saya jauh di dalam.”

Anam    : “Di dalam apa sih yang kamu maksud dari tadi Jessica?”

Jessica : “Saya tidak bisa jelaskan tetapi letaknya jauh di dalam diri Herman.”

Anam    : “Baiklah, saya tidak mengharuskan kamu menjawab kok.

Lalu selama berada di dalam tempat itu ni kamu ngapain aja selama ini?”
Jessica : “Saya berdiam diri saja.”

Anam    : “Lalu apakah ada Jessica Jessica lain selain kamu di dalam diri Herman?”
Jessica : “Ada banyak, mereka juga diam selama ini.”

Anam    : “Jadi bisakah Herman memanggil Jessica lainnya?”

Jessica : “Saya tidak tahu, kenapa tidak coba langsung saja?”

Anam    : “Mungkin nanti saja deh. Kamu tahu bahwa Herman ini seorang muslim?”
Jessica : “Iya saya tahu.”

Anam    : “Jadi, apakah kamu juga menyembah Tuhan yang sama dengan Herman?”
Jessica : “Tuhan? Saya tidak tahu”

Anam    : “Loh, jadi kamu tidak menyembah Tuhan?”

Jessica : “Herman menyembah Tuhan, saya tidak.”

Anam    : “Jessica kenapa kamu tidak menyembah Tuhan?”

Jessica : “Saya tidak tahu.”

Anam    : “Lalu siapa penciptamu Jessica?”

Jessica : “Saya tidak tahu, saya ada sejak Herman ada.”

Anam    : “Oke Jessica, jadi seperti apa wujud kamu sebelum sekarang?”
Jessica : “Saya ada tapi tak berwujud.”

Anam    : “Nah kalau begitu kenapa sekarang kamu berwujud di hadapan Herman?”
Jessica : “Karena dia memberiku wujud yang diinginkannya.”

Anam    : “Jadi, kamu bisa ngapain aja Jessica?”

Jessica : “Banyak hal, selama Herman meninta saya melakukannya”

Anam    : “Apa saja contohnya biar saya lebih paham kemampuan kamu?”
Jessica : “Tadi Herman mengijinkan saya untuk menjadi teman saat dia kesepian atau butuh teman bicara baginya, berubah bentuk atas kehendaknya dan juga datang setiap kali dipanggil”

Anam    :   “Menarik,   kok   bisa   kamu   berubah   wujud   sedangkan awalnya kamu kan tidak berwujud?”
Jessica : “Bisa saja, ini karena Herman mengijinkan saya berubah wujud.”

Anam    :   “Jika   diminta   menjadi   wujud   orang   lain   misalnya menyerupai artis di televisi apakah kamu bisa”
Jessica : “Bisa jika Herman mengijinkannya”

Anam    : “Nah dari mana kamu tahu wujud yang diinginkan Herman sedangkan kamu belum pernah melihat wujud tersebut?”
Jessica : “Anda lupa ya? Saya  itu bagian diri Herman. Saya tahu semua hal yang Herman tahu. Asal Herman pernah melihat wujud yang dimaksud maka saya bisa menjadi wujud tersebut”
Anam    : “Hmmm saya berkali-kali dengar kamu mengatakan kata

Jika  Herman  mengijinkan.  Memangnya  kalau  Herman ndak mengijinkan terus bagaimana?”
Jessica : “Saya hanya melakukan apa saja yang diperintahkan dan diijinkan Herman. Selain itu saya diam.”
Anam    : “Kalau Herman sedang merasa sendirian berarti Jessica datang menemani, begitukah?”
Jessica : “Hanya jika dipanggil oleh Herman”

Anam    : “Loh, kalau tidak dipanggil gimana?”

Jessica : “Saya tetap diam di dalam”

Anam    :  “Bukannya  salah  satu  tugas  kamu  adalah  menemani Herman?”

Jessica : “Hanya jika dipanggil oleh Herman”

Anam    : “Misalnya Herman dalam bahaya, ndak sempat manggil gimana?”
Jessica : “Semoga tidak terjadi. Saya datang hanya jika dipanggil oleh Herman”
Anam    :  “Oke    saya  sedikit  paham.  Lalu  apakah  orang  lain  juga memiliki Jessica seperti kamu?”
Jessica : “Siapa misalnya?”

Anam    : “Misalnya saya. Apakah ada kemungkinan saya memiliki Jessica saya sendiri?”

Jessica :  “Anda  sudah  punya  tapi  tidak  pernah  diberi  nama  dan diberi wujud. Panggil maka dia pasti datang.”
Anam    : “Jawaban kamu ini atas dasar apa? Memangnya kamu bisa tahu dari mana kalau saya juga bisa punya Jessica?”
Jessica :  “Semua  manusia  punya  jika  mau  memanggilnya.  Anda manusia juga kan?”

Anam    : “Alhamdulillah saya masih merasa menjadi manusia. Lalu bagaimana cara saya memanggil Jessica saya jika benar saya memang punya?”
Jessica :  “Tentukan  wujudnya,  beri  nama  lalu  panggillah  dengan berteriak. Bukan memanggil dengan mulut tetapi panggil dengan suara dari titik tengah diantara alis.”

Anam    : “Barusan saya nyoba. Kok tidak terjadi apa-apa?”

Jessica : “Anda memanggil, tapi belum menentukan wujudnya”

Anam    : “Darimana kamu tahu kalau aku belum menentukan wujudnya?”
Jessica : “Karena    jika    Anda    memanggilnya    sayapun     ikut mendengarnya dengan jelas”
Anam    : “Loh apa ini? Apa Herman mengijinkan program membaca pikiran seperti itu?”
Jessica : “Bukan,  sesama  Jessica  bisa  saling  mendengar  ketika seorang  pemilik  tubuh  memanggil  Jessicanya.  Barusan saya   ikut   mendengar   Anda   memanggil   Jessica   Anda dengan  nama  yang  sama  dengan  saya.  Sebaiknya  cari nama lain saja.”
Anam    :  “Oh  begitu  ya  rupanya.  Kali  ini  saya  rasa  cukup  deh.

Terima kasih sudah bersedia berkomunikasi dengan saya.”

Jessica : “Dengan senang hati”

Anam    : “Jessica bagaimana dengan kesadaran Herman?”

Herman  : “Ini aku, Herman. Jessica sudah aku minta pergi.”

Anam    : “Selama proses wawancara tadi apa yang kamu alami Herman?”

Herman  : “Aku merasa tenggorokanku tertindih suara lain. Tapi aku tetap sadar dan dalam kendali penuh. Jessica berdiri di depanku   atau   tepatnya   disebelah   kiri   tempat   kamu duduk.”
Anam    :  “Lalu  bagaimana  kesanmu  terhadap  pengalaman barusan?”
Herman  :    “Aku    akan    panggil    Jessica    setiap    hari    untuk menemaniku.”

Saat itu saya langsung meminta ijin kepada Herman untuk menggunakan data   eksperimen yang barusan kami lakukan termasuk menggunakan nama Jessica sebagai nama metode yang berusaha saya kembangkan tersebut.

Dan seperti dugaan saya, Herman menyetujuinya tanpa ragu. Dari wawancara singkat dengan Jessica, ada beberapa kesimpulan dan dugaan yang muncul terkait fakta  dan  kemungkinan  pengembangan  metode  baru  ini  dalam.

berbagai bidang yang meluas. Beberapa kesimpulan awal yang patut kita garis bawahi bersama adalah :

• Semua orang berpotensi memiliki Jessicanya sendiri

• Jessica adalah bagian diri seseorang

• Jessica ada sejak manusia dalam kandungan

• Jessica  tidak  akan  merespon  sebelum  “diciptakan”  oleh pemiliknya

• Jessica hanya bisa berbuat sesuatu atas kehendak pemiliknya

• Jessica tidak memiliki kuasa lebih atas pemiliknya

• Jessica hanya datang dan pergi atas permintaan pemiliknya

• Jessica  bisa  dibuat  sesuai  dengan  wujud  dan  kemampuan tertentu yang dikehendaki pemiliknya.
• Ada lebih dari satu Jessica yang bisa dimiliki satu seorang.

• Ada cara lain untuk memanggil Jessica selain menggunakan hipnosis.

Nah berbagai kesimpulan sementara di atas akan kita ulas dan buktikan selengkapnya pada bagian lain dari buku ini. Kesimpulan dari satu pengalaman saja belumlah cukup untuk membuat sebuah metode diakui keefektifannya.

Oleh karena itu ulasan dalam buku ini  akan  mengetengahkan  kisah,  metode  dan  keunikan  Jessica Jessica lainnya yang saya teliti hingga saat ini dan masih terus berlanjut.  Hanya  setelah  Anda  siap menerima pengetahuan baru dengan gaya yang menyenangkan dan berkesan positif bagi diri Anda, silakan mulai lanjutkan membaca


Asal Nama Jessica
Asal Nama Jessica - written by Kirito Rev , published at 9:16 AM, categorized as Awal Mula Jessica Method . And have 0 comments
No comment Add a comment
Cancel Reply
GetID